Showing posts with label TOKOH. Show all posts
Showing posts with label TOKOH. Show all posts

Saturday, July 31, 2010

WILLIAM SOERYADJAYA TOKOH MAJALENGKA

WILLIAM SOERYADJAYA TOKOH MAJALENGKA


William Soerjadjaja Pendiri PT Astra Internasional dan Presiden Komisaris SIMA (PT Siwani Makmur Tbk), kelahiran Majalengka 20 Desember 1923, ini seorang anak manusia pilihan yang menyerahkan semua impian dan cita-dukanya kepada Sang Pencipta yang Alfa dan Omega. William Soerjadjaja yang akrab dipanggil Oom Willem adalah taipan panutan yang tulus mencintai bangsanya.

Impian adalah sebuah kekuatan awal yang tidak mudah mewujudkannya. Tapi banyak orang yang mencapai sukses yang bermula dari suatu impian. Salah satu yang berhasil mewujudkan impiannya adalah William Soeryadjaya, pendiri PT Astra Internasional. Ia seorang anak manusia yang menyerahkan semua impiannya kepada Tuhan. Dan, ia telah meraih impian-impiannya.

Kendati, dalam romantika pencapaian impiannya, ia juga mengalami jatuh-bangun, ia tetap bersujud kepada Tuhan, Sang Pencipta yang Alfa dan Omega.

Salah satu mimpinya yang terwujud gemilang adalah PT Astra Internasional. Hanya dalam tempo 13 tahun sejak berdirinya PT Astra Internasional pada tahun 1957, tak kurang dari 72 perusahaan telah bernaung di bawah bendera grup tersebut. Di akhir tahun 1992, jumlah itu telah merambah menjadi sekitar 300 perusahaan yang bergerak di berbagai sektor, tidak hanya dalam sektor otomotif tetapi juga sektor keuangan, perbankan, perhotelan dan properti.

Mimpi ini bermula sejak Oom Willem menjalani masa kecil dan remajanya di Majalengka, Cirebon. Jiwa wiraswasta dari sang ayah, yang mengalir di dalam dirinya dari usia dini, telah menempanya ulet, cerdas, inovatif dan peka atas nalurinya dalam meniti bisnis demi bisinis. Dari berdagang hasil bumi dan minyak goreng di Jawa Barat, dan berdagang kacang dari Bandung ke negeri Belanda pada 1947, semasa studi di negeri kincir angin itu, Oom Willem tidak kenal kata menyerah. Ia ulet, bekerja keras dan berdoa.

Pengalaman jatuh-bangun pastilah dialami setiap orang pebisnis. Demikian juga halnya pengalaman Oom Willem. Namun, ia menegaskan: "Kerugian tidak pernah menyurutkan semangat hidup saya." Hal ini dibuktikannya dalam menyikapi suka-dukanya di PT Astra Internasional, yang didirikan dan dibesarkannya tetapi harus dilepaskannya, demi tanggung jawab pribadinya atas masalah yang menimpa Bank Summa, milik putera sulungnya Edward Soeryadjaya, di tahun 1992.

Hal ini telah menghantarkannya dan segenap keluarganya ke masa-masa yang amat sulit. Namun, kesulitan itu tidak sampai mengambil suka-cita yang bersemi di hatinya. Ia menyerahkan semuanya kepada kehendak Allah.

Oom Willem, memang bukan sekedar figur pebisnis yang sukses dalam bidangnya. Sebagai pendiri PT Astra Internasional, Oom Willem memang bukan saja telah mendirikan sebuah perusahaan yang dihormati baik di dalam maupun luar negeri oleh karena profesionalisme dan integritasnya. Lebih dari itu, lewat visi dan komitmen sosialnya, Oom Willem juga telah membuktikan sumbangsihnya kepada bangsa Indonesia dalam mengangkat ekonomi nasional dalam arti seluas-luasnya, di antaranya menciptakan lapangan kerja bagi puluhan ribu masyarakat Indonesia.

Visi memang merupakan salah satu kata kunci dalam kiat menyelami tokoh bangsa yang pada usianya yang sudah berkepala delapan, tetapi masih terlihat bugar ini. Visi tersebut yang memandu seluruh kemampuan, dan terutama dalam pengembangan sumber daya manusia, serta pencapaian tujuan dengan penerapan azas corporate governance yaitu transparency (transparansi), responsibility (tanggung jawab) dan accountability (pertanggungjawaban). Dimensi-dimensi ini yang acap kali tergeser ataupun terlupakan oleh sementara orang, dalam prioritas pengembangan bisnis maupun perekonomian.

Semenjak berdirinya Astra, Oom Willem selalu mementingkan pengembangan kemampuan dan peningkatan pendidikan sumber daya manusia, yang kemudian diterapkan secara konsisten dalam program-program pelatihan dan beasiswa bagi karyawan. Pada saat awal tahun 70-an, banyak tenaga kerja yang dikirim ke Amerika, Eropa maupun Jepang untuk menambah ilmu dan keterampilan.

Lebih lagi, kesan yang sangat melekat pada diri Astra adalah banyaknya tenaga kerja pribumi yang dipekerjakan, baik pada tingkat karyawan biasa maupun dalam jajaran pimpinan. Ini salah satu wujud ketulusan, kebanggaan dan kecintaannya sebagai warga bangsa Indonesia kepada bangsa dan negaranya. "Saya cinta Indonesia, saya lahir, hidup dan berkarya di Indonesia," tandas Oom Willem dengan tulus.

Selain itu, Oom Willem sangat mementingkan nilai-nilai seperti naluri, loyalitas dan rasa percaya dalam merekrut tenaga. Dengan basis ini, banyak inovasi bisnis dari pihak karyawan yang disetujui untuk diuji-coba apabila dianggap layak, agar para karyawan terpacu untuk mengasah kreativitas mereka. Rasanya tidaklah berlebihan apabila sebagai sebuah perusahaan, nama Astra tidak terlepas dari sejarah, dan menjadi identik dengan kata-kata seperti integritas, dan public service (layanan kepada masyarakat).

Kendati demikian, PT Astra pun mengalami jatuh-bangun, banyak mendapat guncangan, terlebih dari lawan-lawan bisnis yang boleh jadi iri hati atas suksesnya. Oom William dijatuhkan lewat penutupan Bank Summa milik Edward Soeryadjaya, anak pertamanya, periode tahun 1992-1993. Inilah badai terbesar dalam perjalanan bisnis sang pendekar ini.

Oom William pasrah. Ia selalu kembalikan kepada Tuhan. Ia selalu berpegang pada prinsip: Manusia berusaha, Tuhan menentukan. Yang paling penting baginya ketika itu adalah nasib para karyawan dan nasabah Bank Summa. Ia teramat sedih membayangkan pegawai sebanyak itu harus kehilangan mata pencahariannya. Oleh karenanya ia rela menjual saham-sahamnya di Astra guna memenuhi kewajiban Bank Summa.

Banyak spekulasi yang berkembang ketika Oom Willem terpaksa menjual sahamnya di Astra. Spekulasi yang banyak diyakini orang adalah adanya rekayasa pemerintah untuk menjatuhkan Oom Willem. Namun, Oom Willem sendiri tidak pernah merasa dikorbankan oleh sistem. Semua itu dianggapnya sebagai konsekuensi bisnis. Ia tidak mau larut dalam tekanan spekulasi dan keluhan. Melainkan ia pasrah dengan tulus kepada kehendak Tuhan. Dengan ketulusan itu pula, ia terus melangkah maju ke depan dengan pengharapan yang hidup. Dan, kini, salah satu kepeduliannya yang terbesar adalah bagaimana Astra dapat terus berperan sebagai agen pertumbuhan ekonomi nasional, yang antara lain dapat membuka lapangan kerja lebih luas.

Memang, membuka lapangan kerja, adalah salah satu impiannya yang tetap membara dari dulu hingga kini. Sebuah impian dan obsesi yang dilandasi kepeduliannya kepada sesama. "Salah satu hasrat saya dari dulu adalah membuka lapangan kerja," katanya. Apalagi kondisi Indonesia saat ini, yang dilanda krisis ekonomi, yang berakibat bertambahnya pengangguran.

Impian inilah yang mendorong Omm Wilem membeli 10 juta saham PT Mandiri Intifinance. Di sini, ia mengumpulkan dana untuk diinvestasikan ke dalam pengembangan usaha petani-petani kecil dan small and medium enterprises (usaha-usaha kecil dan menengah). Agar dapat menciptakan lapangan-lapangan kerja baru dan meningkatkan daya beli masyarakat, yang pada akhirnya akan mengangkat bangsa ini dari keterpurukan.

Berikut biodata lengkap
Nama William Soerjadjaja
Panggilan: Om William
Lahir Majalengka, 20 Desember 1923
Isteri: Lily Anwar (Nikah di Bandung, 15 Januari 1947
Anak:
- Edward (21 Mei 1948)
- Edwin (17 Juli 1942)
- Joyce (14 Agustus 1950)
- Judith (14 Februari 1952)


Sumber: http://www.tokohindonesia.com

Friday, July 23, 2010

KISAH VETERAN YANG MENUNGGU SK SELAMA 8 TAHUN

KISAH VETERAN YANG MENUNGGU SK SELAMA 8 TAHUN

veteran majalengka17 Agustus 1945 adalah hari kemerdekaan Indonesia banyak para pahlawan yang berjuang merebut kemerdekaan indonesaia selama berabad-abad. dan sebagai warga negara indonesia yang baik menghormati para pahlawan adalah hal yang harus dilakukan, karena tanpa mereka Indonesia tidak akan seperti sekarang ini. Nah untuk menyambut hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 65 saya akan bercerita tentang salah seorang pejuang kemerdekaan penumpas gerombolan DI/TII di wilayah Rajagaluh - Majalengka yang ingin menjadi anggota Veteran.

Samsudin nama yang diberikan orang tuanya kepada seorang pejuang ini, dia lahir 03 Januari 1928, kalau dihitung umur sudah 82 tahun. memiliki anak 12 meninggal 5 tersisa 7 anak. Kondisi fisik bapak Samsudin ini masih sehat dan kuat walau tidak sekuat waktu berjuang dahulu. pekerjaan sehari-hari adalah buruh tani sawah, dia hanya memiliki sawah "bengkok" (sawah upah jabatan RT) seluas 100 bata, dan jika di lingkungan masyarakat di menjabat sebagai Ketua RT (Rukun Tetangga). walau sudah tua tetapi dia masih bisa bekerja berbakti kepada masyarakat, misalnya memungut iuran pajak tanah dan bangunan, memungut iuran air bersih, dan masih banyak lagi aktifitas di desa.

Perjalanan usulan untuk menjadi Veteran dimulai sejak Oktober tahun 2002. walau sebenarnya tahun 1990-an sudah ada yang mengajak untuk daftar menjadi veteran, namun Pak Samsudin tidak mau karena menurutnya perjuangan adalah kewajibannya dan itu tidak perlu dibayar dan alasan lain penolakannya adalah karena tidak memiliki uang untuk mengajukan pendaftaran tersebut.

Tanggal 07 Oktober 2002 Pak Samsudin di paksa Bapak Nursim (almarhum meninggal tahun 2008), untuk ikut mengajukan menjadi veteran. maka dengan bantuan bapak Nursim Bapak Samsudin menyiapkan surat-surat yang diperlukan untuk mengajukan menjadi seorang Veteran, misalnya mengisi formulir pendaftaran, kartu keluarga, akta nikah, dan dokumen perjuangan seperti surat kesaksian perjuangan bersama pejuang kerakyatan
BKR/TKR Tahun 1945 yang di pimpin oleh Mayor Apandi.
LASKAR ANG LAP TKR/TRI BN V RES XII SGD Tahun 1946 yang di pimpin oleh Mayor Apandi.
TRI/TNI BN V RES XII SGD Tahun 1947 yang di pimpin oleh Mayor Apandi.
TNI BN V RES XII SGD Tahun 1948 yang di pimpin oleh Mayor Apandi.
TNI BN V RES XII SGD Tahun 1949 yang di pimpin oleh Mayor U Rukman
Ditambah dengan biaya administrasi kepengurusan.

Penantian menunggu SK (Surat Keputusan) dari tahun 2002 menjadi hal yang menjengkelkan, belum lagi pengurus veteran kecamatan yang meminta uang untuk biaya pengurusan pengajuan dari mulai tingkat kabupaten majalengka, tingkat propinsi jawa barat sampai ke tingkat nasional yaitu di Jakarta. Penantian pun agak terobati setelah menunggu selama 3 tahun yaitu turunnya Piagam Penghargaan "Gelar Kehormatan Veteran Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia" tanggal 30 Desember 2005.

Mendapatkan Piagam Penghargaan merupakan kebanggan tersendiri bagi Bapak Samsudin ternyata pengajuannya dapat diterima. Setelah piagam penghargaan didapat Bapak Samsudin hanya tinggal menunggu SK (surat Keputusan) agar bisa mendapatkan gaji sebagai veteran. setelah menunggu sekitar 3 tahun juga maka tanggal 12 desember tahun 2008, datanglah daftar gaji untuk Bapak Samsudin gaji pertama yaitu sebesar Rp. 450.000/bulan. gaji tersebut bukan Rp. 450.000 yang harus diterima tetapi dua kali lipat lebih, hanya karena alasan belum mendapatkan SK maka gaji tersebut hanya diterima Rp. 450.000.

Juli 2010 sekarang sudah hampir 11 bulan Bapak Samsudin menerima gaji sebesar Rp. 450.000 yang seharunya diterima sebesar Rp. 1.050.000,-. namun dia tidak pernah mengeluh karena gaji seperti itu karena dia masih bisa makan walau kesehariannya kekurangan. dia akan tetap berjuang sampai mati untuk tetap hidup untuk membiayai istri dan anak bungsunya walau tanpa gaji yang seharunya diterima dari veteran.

Itulah kisah seorang veteran yang selama 7 tahun lebih bertahan hidup demi anak istri dan SK Veteran. Dengan biaya pengajuan selama 7 tahun sudah keluar uang 4 jutaan lebih hanya untuk menjadi seorang Veteran.

Yang menjadi pertanyaan bagi saya adalah Apakah benar harus menunggu bertahun-tahun hanya untuk mendapatkan SK Veteran, padahal Piagam dan gaji sudah diterima?. itu pertanyaan buat pemerintah daerah kabupaten majalengka, propinsi jawa barat dan pemerintah pusat di Jakarta yang menangani kepengurusan Veteran. bagi yang mengetahui tolong di informasikan kebenarannya.